HAKIKAT IMAN DAN BAGIAN BAGIANNYA
A’udzubillahi minassyaithonirrojiem Bismillahirrohmanirrohiem,
Sebelum membahas lebih jauh tentang iman, terlebih dahulu kita mengutip sebuah hadist nabi yang terkenal mengenai iman tersebut. Umar bin Khattab ra. Berkata: ketika kami berada disisi Rasulullah SAW, tiba-tiba kami didatangi oleh seorang laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya. Tidak seorangpun diantara para sahabat yang mengenal lelaki tersebut, kemudian ia duduk disamping Nabi SAW
dan kedua lututnya disandarkan pada lutut Nabi SAW. Kedua tangannya diletakkan diatas kedua lutut Nabi SAW. Sambil menanyakan, “Ya Muhammad beritakanlah kepadaku tentang Islam?”. Kemudian dijawab oleh Nabi. Kemudian bertanya lagi: “beritakanlah padaku tentang Iman?” maka Nabi SAW menjawab yang artinya sebagai berikut:
“ Agar engkau beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul-Nya, hari akhirat dan taqdir yang baik maupun buruk. Kemudian orang itu (Jibril As) membenarkan ucapan Rasulullah SAW”.
Selanjutnya orang tersebut bertanya mengenai Ihsan, maka dijawablah oleh Baginda Nabi SAW.
Iman menurut pengertian bahasa adalah kepercayaan secara mutlak (total), sedangkan menurut pengertian syar’I adalah percaya terhadap apa yang dibawa Nabi SAW dari sisi Allah YME. Secara total dengan di topang dari akal budi dan hatisanubari secara bersamaan.
Menurut Sayyid Mahmud, Iman pada dasarnya terbagi menjadi lima bagian:
1. Iman yang sudah menjadi tabi’at
2. Iman yang terpelihara
3. Iman yang terkabul
4. Iman yang masih tergantung
5. Iman yang tartil
Dijelaskan bahwa pada tingkat yang pertama adalah imannya para malaikat, kedua adalah iman para Nabi dan hamba-hamba pilihan, ketiga adalah Imannya orang yang beriman di antara kita, ke empat dalam konteks ini adalah imannya orang yang mempunyai landasan (tidak disandarkan pada akal dan sanubari), sedankan yang kelima adalah imannya orang-orang munafik (musrik).
Iman menurut istilah menjadi tiga bagian: Iman dzati, Iman istidali (iman yang menggunakan dalil) dan iman taqlidi (iman yang ikut-ikutan).
Iman dzati merupakan cerminan dari hati nurani yang telah terbiasa (secara dari fitroh) meng Esakan Allah SWT. Dengan penuh keyakinan. Kemudian percaya (mengamalkan dengan sepenuh hati apa yang diwajibkan secara syari’at), sehingga andaikata seluruh penduduk bumi mengingkari apa yang ia yakini, niscaya tidak bergeming dan tidak ada keraguan terhadap apa yang telah tertanam dilubuk hati. Yang demikian itu hanya akan berhasil pada saat menyatunya sifat-sifat ketuhanan yang ada dalam dirinya dengan sifat kehambaan yang ia miliki. Semakin tinggi nilai manusia dihadapan Allah, maka ia akan menduduki maqom iman dan ihsan.
Imam istidlali (yang menggunakan dalil) merupakan wujud pembuktian yang diambil dari dalil-dalil yang ada terhadap suatu perbuatan atas seseorang, sekaligus jejak yang meninggalkan bekas. Sesungguhnya pada jejak yang tidak bertanda (membekas) adalah suatu kemustahilan seperti adanya kotoran unta merupakan bukti petunjuk akan adanya unta.
Iman taklidi (ikut-ikutan) adalah dasar keyakinan yang didapat dari warisan orang tua (nenek moyang). Termasuk didalamnya percaya (secara bulat, utuh). Akan kata-kata para Ulama’ dengan tidak didasari burhan (bukti) pencarian terhadap diri sendiri. Keimanan semacam ini tidak akan bertahan lama jika dihadapkan pada guncangan yang meragukan hati.
Wallahua’lamu Bisshowab…
(disarikan dari kitab Jamharotul Auliya’ Karya Sayyid Mahmud Abul Faidh Al-Manufi Al-Husaini)
Selasa, 29 Januari 2013
Sabtu, 26 Januari 2013
MENJAGA MARTABAT KEMANUSIAAN
الحمد لله رب السماوات والأرض وما بينهما – أشهد أن لا اله ألا الله ولا نعبد سواه – وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى – أللهم صل وسلم وبارك على حبيبنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. – أما بعد فياعباد الله – إتقوا الله ولا تموتن إلا وأنتم متمسكين بالدين.
Sembari duduk bersila, bersimpuh dengan tomakninah dan pemusatan pikiran konsentrasi yang tinggi mari kita bersama-sama merasakan kedekatan kita kepada Tuhan, Allah SWT. Dengan berupaya meningkatkan ketaqwaan kita kepada-Nya. Dalam hadis disebutkan:
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك (الحديث)
Jika kita merasa selalu diawasi, maka akan melahirkan keinginan yang tulus untuk tetap melakukan kebenaran dan akan merasakan bahwa apa-apa yang dilakukan –walau sekecil apapun adanya– tidakakan sia-sia, karena se-lalu disaksikan oleh Allah SWT. Selanjutnya, dengan merasa selalu diawasi Allah SWT. kita akan senantiasa berupaya untuk menghidari kejahatan, tidak akan melakukan kezaliman sekalipun tidak ada orang yang menyaksi-kannya.
Dalam kedekatan itu kita bukakan nurani kita untuk menerima petunjuk-Nya; kita tundukkan jiwa kita; dan kita sempurnakan ketundukan dan kepatuhan kita kepada-Nya, sehingga membentuk bingkai-2 ketaqwaan dengan ornamen do’a, sabar, dan tawakkal. إتقوا الله ماستطعتم (berupayalah semampumu untuk me-wujudkan taqwamu kepada-Nya).
Taqwa sebagai simpul dari sikap dan peri laku, baik peri laku sosial maupun keagamaan, akan memberikan arahan kepada kita dalam mengisi hidup dan kehidupan ini.
Taqwa sesungguhnya bukan hanya memihak kepada kepentingan pribadi, seperti menjalani ritual keagamaan dengan khusyu’, melainkan juga memfungsikan diri kita sebagai pelaku perubahan sosial yang selalu mengacu kepada bimbingan Ilahy.
Sementara itu, tawakkal akan meningkatkan kemampuan kita dalam memahami realita (kenyataan) hidup. Tidak mengeluh dalam dalam kesulitan, tidak gelisah dalam kegetiran, dan tidak sombong dalam keberhasilan.
Dalam bangunan sikap taqwa itu kita bisikkan secercah rasa syukur kita kepada-Nya atas se-gala kucuran nikmat, rahmat, dan karunia-Nya. Karena bimbingan-Nya juwa kita sampai saat ini tetap istiqomah dan penuh kerelaan meneri-ma realita hidup dan kehidupan, baik dalam kehidupan berkeluaraga, bermasyarakat, maupun dalam berbangsa dan bernegara.
34. Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Dalam kesyukuran kita yang dalam kita senantiasa berharap semoga negara dan bangsa yang besar dan yang kita cintai, ini akan memfasilitasi kita untuk hidup layak, sehingga memperluas kesempatan dan peluang bagi kita untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. dalam rangka memenuhi tuntutan dan ayat: وماخلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (wa mâ kholaqtu-l-jinna wa-l-insa illû li-ya’budûn).
Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah.
Ayat di atas menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian kita kepada Allah SWT. adalah target akhir kita. Semua yang kita miliki akan kita pertaruhkan untuk pengabdian itu. Setiap jengkal amal usaha yang kita lakukan adalah untuk membangun pengabdian itu. Setiap desah napas dan denyut nadi adalah fasilitas yang disiapkan untuk melaksanakan ibadah dan pengabdian itu. Oleh karena pengabdian (ibadah) adalah ending target kita, maka tentu nilai kita disisi Allah SWT. akan ditentukan oleh kadar amal yang kita lakukan.
132. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Kalaulah demikian, berarti, secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kita dalam keseharian akan menentukan nilai diri kita di sisi Allah SWT. oleh karena itu, mari kita isi hidup dan kehidupan kita ini dengan rangkaian kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah SWT. bukan sebaliknya, menumpuk maksiat dan menabung dosa. Kita sempatkan disetiap saat untuk mengoreksi diri dalam rangka mempersiapkan hari esok yang lebih baik.
حاسـبوا أنفســكم قبـل أن تحاســبوا
ولتـنظـر نفـس ماقـدمت لـغد
Jam’ah jum’at rohimakumullah.
Oleh karena kita ini adalah manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan ketebatasan, maka merupakan suatu keniscayaan yang mutlak bagi kita semua untuk selalu saling ingat mengingatkan; sebab, lupa dan lalai merupakan milik manusia kita sebagai. Karena itu pula Allah SWT. memerintahkan kita agar saling taushiyah, firman-Nya:
(1) demi masa. (2). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3). kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Lebih dari itu, agar kehidupan kita ini semakin berkualitas dan lebih maju, maka seyogyanya kita saling dorong untuk kebaikan dan saling cegah dari kemungkaran:
(Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Mari kita tinggalkan & kita buang jauh-2 sifat dan sikap acuh tak acuh & pura-2 tidak tahu. Mari kita pupuk kebersamaan kita, mari kita rapikan barisan kita, kita ikat erat-erat persa-habatan kita, mari kita saling membantu dalam kebaikan:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (me-ngerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pe-langgaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Mengapa pula masih ada kekerasan dan gangguan keamanan disaat kita menginginkan kedamaian.
Mengapa masih ada perpecahan di antara kita sementara al-Qur’an kitab suci kita mengajarkan dan mengajak kita untuk selalu bersatu:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu nikmat-Nya Allah menjadikan kamu bersaudara; dan (ingatlah pula) ketika kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Jamaah jumat rohimakumullah.
Adalah kewajiban kolektif kita secara bersama untuk mempertahankan kualitas dan martabat kamanusiaan di depan manusia sekali gus di depan Tuhan. Oleh karena itu, adalah dosa bagi kita jika membiarkan orang, siapapun dia, yang menjatuhkan dan atau menghancurkan derajat kemanusiaan yang sejak semula, dengan keagungan-Nya, telah Allah SWT. Anugerahkan kepadanya.
Dan Sesungguhnya Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas keba-nyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Mari kita jalin kasih sayang diantara dengan membina rasa dan sikap simpatik, mari kita perangi secara bersama-sama kesenjangan-kesenjangan yang ada di sekitar kita. Setahap demi setahap, mari kita timbun jurang pemisah antara sikaya dan simiskin dengan memberikan hak-hak mereka yang Allah SWT. titipkan di dalam harta yang diamanatkan kepada kita.
Mari kita dekatkan perbedaan antara atasan dan bawahan. Mari kita perkecil kesenjangan antara majikan dan buruh atau pekerja dengan melaksanakan hak dan kewajiban masing-2 secara profesional dan proporsional. Mari kita bina mereka yang memang mungkin untuk dikembangkan dan mari kita berikan kesempatan kepada mereka yangg memang memungkinkan untuk dipromosikan. Semoga dengan kesadaran ini, sedikit demi sedikit martabat dan derajat kemanusiaan akan senantiasa terjamin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم - ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم - وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم – أقول قولي هذا واستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
الحمد لله رب السماوات والأرض وما بينهما – أشهد أن لا اله ألا الله ولا نعبد سواه – وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى – أللهم صل وسلم وبارك على حبيبنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. – أما بعد فياعباد الله – إتقوا الله ولا تموتن إلا وأنتم متمسكين بالدين.
Sembari duduk bersila, bersimpuh dengan tomakninah dan pemusatan pikiran konsentrasi yang tinggi mari kita bersama-sama merasakan kedekatan kita kepada Tuhan, Allah SWT. Dengan berupaya meningkatkan ketaqwaan kita kepada-Nya. Dalam hadis disebutkan:
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك (الحديث)
Jika kita merasa selalu diawasi, maka akan melahirkan keinginan yang tulus untuk tetap melakukan kebenaran dan akan merasakan bahwa apa-apa yang dilakukan –walau sekecil apapun adanya– tidakakan sia-sia, karena se-lalu disaksikan oleh Allah SWT. Selanjutnya, dengan merasa selalu diawasi Allah SWT. kita akan senantiasa berupaya untuk menghidari kejahatan, tidak akan melakukan kezaliman sekalipun tidak ada orang yang menyaksi-kannya.
Dalam kedekatan itu kita bukakan nurani kita untuk menerima petunjuk-Nya; kita tundukkan jiwa kita; dan kita sempurnakan ketundukan dan kepatuhan kita kepada-Nya, sehingga membentuk bingkai-2 ketaqwaan dengan ornamen do’a, sabar, dan tawakkal. إتقوا الله ماستطعتم (berupayalah semampumu untuk me-wujudkan taqwamu kepada-Nya).
Taqwa sebagai simpul dari sikap dan peri laku, baik peri laku sosial maupun keagamaan, akan memberikan arahan kepada kita dalam mengisi hidup dan kehidupan ini.
Taqwa sesungguhnya bukan hanya memihak kepada kepentingan pribadi, seperti menjalani ritual keagamaan dengan khusyu’, melainkan juga memfungsikan diri kita sebagai pelaku perubahan sosial yang selalu mengacu kepada bimbingan Ilahy.
Sementara itu, tawakkal akan meningkatkan kemampuan kita dalam memahami realita (kenyataan) hidup. Tidak mengeluh dalam dalam kesulitan, tidak gelisah dalam kegetiran, dan tidak sombong dalam keberhasilan.
Dalam bangunan sikap taqwa itu kita bisikkan secercah rasa syukur kita kepada-Nya atas se-gala kucuran nikmat, rahmat, dan karunia-Nya. Karena bimbingan-Nya juwa kita sampai saat ini tetap istiqomah dan penuh kerelaan meneri-ma realita hidup dan kehidupan, baik dalam kehidupan berkeluaraga, bermasyarakat, maupun dalam berbangsa dan bernegara.
34. Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Dalam kesyukuran kita yang dalam kita senantiasa berharap semoga negara dan bangsa yang besar dan yang kita cintai, ini akan memfasilitasi kita untuk hidup layak, sehingga memperluas kesempatan dan peluang bagi kita untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. dalam rangka memenuhi tuntutan dan ayat: وماخلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (wa mâ kholaqtu-l-jinna wa-l-insa illû li-ya’budûn).
Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah.
Ayat di atas menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian kita kepada Allah SWT. adalah target akhir kita. Semua yang kita miliki akan kita pertaruhkan untuk pengabdian itu. Setiap jengkal amal usaha yang kita lakukan adalah untuk membangun pengabdian itu. Setiap desah napas dan denyut nadi adalah fasilitas yang disiapkan untuk melaksanakan ibadah dan pengabdian itu. Oleh karena pengabdian (ibadah) adalah ending target kita, maka tentu nilai kita disisi Allah SWT. akan ditentukan oleh kadar amal yang kita lakukan.
132. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Kalaulah demikian, berarti, secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kita dalam keseharian akan menentukan nilai diri kita di sisi Allah SWT. oleh karena itu, mari kita isi hidup dan kehidupan kita ini dengan rangkaian kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah SWT. bukan sebaliknya, menumpuk maksiat dan menabung dosa. Kita sempatkan disetiap saat untuk mengoreksi diri dalam rangka mempersiapkan hari esok yang lebih baik.
حاسـبوا أنفســكم قبـل أن تحاســبوا
ولتـنظـر نفـس ماقـدمت لـغد
Jam’ah jum’at rohimakumullah.
Oleh karena kita ini adalah manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan ketebatasan, maka merupakan suatu keniscayaan yang mutlak bagi kita semua untuk selalu saling ingat mengingatkan; sebab, lupa dan lalai merupakan milik manusia kita sebagai. Karena itu pula Allah SWT. memerintahkan kita agar saling taushiyah, firman-Nya:
(1) demi masa. (2). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3). kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Lebih dari itu, agar kehidupan kita ini semakin berkualitas dan lebih maju, maka seyogyanya kita saling dorong untuk kebaikan dan saling cegah dari kemungkaran:
(Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Mari kita tinggalkan & kita buang jauh-2 sifat dan sikap acuh tak acuh & pura-2 tidak tahu. Mari kita pupuk kebersamaan kita, mari kita rapikan barisan kita, kita ikat erat-erat persa-habatan kita, mari kita saling membantu dalam kebaikan:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (me-ngerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pe-langgaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Mengapa pula masih ada kekerasan dan gangguan keamanan disaat kita menginginkan kedamaian.
Mengapa masih ada perpecahan di antara kita sementara al-Qur’an kitab suci kita mengajarkan dan mengajak kita untuk selalu bersatu:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu nikmat-Nya Allah menjadikan kamu bersaudara; dan (ingatlah pula) ketika kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Jamaah jumat rohimakumullah.
Adalah kewajiban kolektif kita secara bersama untuk mempertahankan kualitas dan martabat kamanusiaan di depan manusia sekali gus di depan Tuhan. Oleh karena itu, adalah dosa bagi kita jika membiarkan orang, siapapun dia, yang menjatuhkan dan atau menghancurkan derajat kemanusiaan yang sejak semula, dengan keagungan-Nya, telah Allah SWT. Anugerahkan kepadanya.
Dan Sesungguhnya Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas keba-nyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Mari kita jalin kasih sayang diantara dengan membina rasa dan sikap simpatik, mari kita perangi secara bersama-sama kesenjangan-kesenjangan yang ada di sekitar kita. Setahap demi setahap, mari kita timbun jurang pemisah antara sikaya dan simiskin dengan memberikan hak-hak mereka yang Allah SWT. titipkan di dalam harta yang diamanatkan kepada kita.
Mari kita dekatkan perbedaan antara atasan dan bawahan. Mari kita perkecil kesenjangan antara majikan dan buruh atau pekerja dengan melaksanakan hak dan kewajiban masing-2 secara profesional dan proporsional. Mari kita bina mereka yang memang mungkin untuk dikembangkan dan mari kita berikan kesempatan kepada mereka yangg memang memungkinkan untuk dipromosikan. Semoga dengan kesadaran ini, sedikit demi sedikit martabat dan derajat kemanusiaan akan senantiasa terjamin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم - ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم - وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم – أقول قولي هذا واستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Senin, 07 Januari 2013
KISAH MURID SYEH JUNAID AL BAGHDADI
Syekh Junaid Al-Baghdadi adalah seorang tokoh sufi besar yang ternama. Ia mempunyai seorang murid yang sangat disayanginya yang menyebabkan santri-santri Junaid yang lain iri hati. Jauh di dalam hati, mereka tak dapat menerima mengapa sang guru memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Syekh Junaid menyuruh semua santrinya membeli ayam di pasar untuk kemudian disembelih. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat dimana tak ada yang dapat melihat mereka dengan syarat sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas tersebut.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih kecuali murid kesayangan Junaid. Akhirnya ketika matahari tenggelam, sang murid muda itu baru datang dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu telah gagal melaksanakan perintah Syeikh yang sangat mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya.
Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana.
Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Sedangkan santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda kesayangan Junaid yang tak berhasil memotong ayam. Sambil tertunduk malu karena merasa tak dapat menjalankan perintah sang guru. Ia pun bercerita:
“Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Padahal aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku."
Para murid Syekh Junaid yang lain pun tertegun.
Syekh Junaid Al-Baghdadi adalah seorang tokoh sufi besar yang ternama. Ia mempunyai seorang murid yang sangat disayanginya yang menyebabkan santri-santri Junaid yang lain iri hati. Jauh di dalam hati, mereka tak dapat menerima mengapa sang guru memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Syekh Junaid menyuruh semua santrinya membeli ayam di pasar untuk kemudian disembelih. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat dimana tak ada yang dapat melihat mereka dengan syarat sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas tersebut.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih kecuali murid kesayangan Junaid. Akhirnya ketika matahari tenggelam, sang murid muda itu baru datang dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu telah gagal melaksanakan perintah Syeikh yang sangat mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya.
Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana.
Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Sedangkan santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda kesayangan Junaid yang tak berhasil memotong ayam. Sambil tertunduk malu karena merasa tak dapat menjalankan perintah sang guru. Ia pun bercerita:
“Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Padahal aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku."
Para murid Syekh Junaid yang lain pun tertegun.
bahaya kikir dan keutamaan sodaqoh
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".
Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".
"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."
"Wahai Rasulullah, kemudian akupun mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab, "Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."
"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."
Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanya sifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.
Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya. (J. Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".
Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".
"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."
"Wahai Rasulullah, kemudian akupun mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab, "Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."
"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."
Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanya sifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.
Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya. (J. Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)
Langganan:
Postingan (Atom)
